Senin, 14 Oktober 2013

HATIKU PILU


Cintamu adalah anugerah di hatikuNamun tak pernah kau bisa rasakan ituKu takut suatu saat nanti kau berubahKu harap semoga itu takkan terjadi



Tak pernah kau tahu betapa cintamuMenusuk di dadakuTak pernah kau tahu betapa cintamuMerasuk di jiwaku
Jangan kau tinggalkan aku di saat ku mengharapkanmuHatiku pilu, hatiku piluJangan kau putuskan aku di hadapan teman-temanku

Jangan kau tinggalkan aku di saat ku mengharapkanmuHatiku pilu, hatiku piluJangan kau putuskan aku di hadapan teman-temankuAku pun malu, aku pun malu
Jangan kau tinggalkan aku di saat ku mengharapkanmuHatiku pilu, hatiku piluJangan kau putuskan aku di hadapan teman-temankuAku pun malu, aku pun malu, aku pun malu, ku jadi malu

Kamis, 05 September 2013

Melepas dan Menerima


Genegenheid Taufiq

  • Jangan mencintai seseorang yang tidak bisa kamu percaya. Percayailah seseorang yangg kamu cinta. Jika kamu telah mencoba untuk mengubah sesuatu tapi tetap tak berhasil, cobalah mengubah pandanganmu. Melepaskan orang yg kamu cintai jauh lebih sulit dibanding menerima cinta yg baru yg asing bagi hatimu. Harapan tinggallah harapan jika tidak disertai tindakan, impian tinggallah impian jika tidak selaras dengan kemampuan.


Senin, 21 Januari 2013

Mutiara Kalbu

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.


Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari. 

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Rabu, 19 Desember 2012

Kangenku



Genegenheid Taufi
Sebelumnya tak ada yang mampu mengajakku untuk bertahan…
Dikala sedih…
Kesepian….
Ku ikat hatiku hanya untuk aku seorang…
Sekarang kau disini…
Hilang rasa bimbangku…
Kesedihanku…


Kesepianku…
Kau buat aku bertanya dan mencari…
Rasa yang aku sendiri pun tak mengerti..
Akankah sama bila bukan kamu…
Dan senyummu yang menyadarkanku…
Bahwa kau adalah anugrah terindah yang pernah kutemui…

Tak mudah bagiku tertawa sendiri
Dikehidupan yang kelam ini
Rasanya tak perlu aku membagi kisahku ini
Saat ada yang mengerti …

Kau ada disini hilang semua bimbang..
Kesedihanku…
Kesepianku…
Bila suatu saat kau harus pergi…
Jangan katakan padaku
Tuk mencari yang lebih baik…

Karna senyummu…
Tawamu…
Sedihmu menyadarkanku…
Bahwa kau adalah anugrah terindah yang pernah kutemui…

Selasa, 27 November 2012

Raga_Jiwa

 
TUHAN hari ini kulihat nyawa meninggalkan raganya.ku teringat..
bhwa smua raga kan kehilangan nyawanya.bgitu jga hamba..
kalau hari ini, esok, esok lusa, bulan depan.
atw kpan pun itu.nyawaku meninggalakanku..ku harap ENGKAU menjaga orang2 yg ku sayang,..terutama dirinya yg slalu memberiku semangat..bhwa ku bsa mnjadi yg terbaik..jagalah dia..jagalah kebahagiaannya..sehatkanlah dia..krna hamba takut..hamba takut..hamba tak bisa mengusap air matanya kala ia sedih..tertawa lepas bersamanya..:')

Namamu_Untukmu

Ku bergelut dlam gelap..
Tak mungkin ku merindukanmu..
Qta ini berbda.
Kau bdadari..
Aku apa?aku hnya scuil bnda yang menyesakkan bumi ne..
Ku pukul dgn keras dadaku.
Tepat d luar hatiku..
Ku ingn detak ne berhenti.
Krna ku tak ingn hati ne berdetak sambil menyiul namamu.
Krna qta ne berbeda..
Kau lah makhluk bersayap putih itu.
Kau berbeda.
Kau it indah mempesona.
Sdangkanku adl makhluk gelap kumuh itu..


Ttap saja...
Seandainya ada lagi satu tingkatan d atas kata rindu.
Maka kata itlah yg pantaz mewakiliku padamu..

Kau berkelit.
Dlam mimpiku,kau berdalih..
Bkankah perbedaan ne yg membuat sgalanya indah..
Kau bertutur''perbdaan ne lh yg membuat kta tambh kuat''

Untk kali ne ku percyai celotehmu..
Tapi,
Kala malam berotasi dalam ratusan..
Ku semakin ragu..
Bkan krna ku tak mempercyaimu.
Tapi krna kau tak berada di sisiku.
Kala ku jamah pipiku berlumur air mata rindu ne..

Dan tinggal menunggu waktu.
Saat ku harus menusuk hatiku dgn sembilu..
Ya saat drimu berikrar janji dgn pangeranmu..
BIDADARIKU.

Abu Nawas dan Kisah Enam Ekor Lembu yang Pandai Bicara


Genegenheid Taufiq
Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawas pun menyembah. Dan Sultan bertitah, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu.



“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku.”
Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas!”
Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia duduk berdiam diri merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan Sultan kepadanya.

Ia segera menuju kerumunan  orang banyak, lalu ujarnya, “Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?”
Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada mereka, “Begitu saja kok anggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.”

Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Lembu berjenggot.

Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah dan duduk dengan khidmat. Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana lembu berjenggot yang pandai bicara itu?”

Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk keenam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam.”
“Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?”
“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang,” jawab Abu Nawas.

Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban berbeda-beda. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, tentunya tahu hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain, akan tambah pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah lembu berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku.”

Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar kepada Abu Nawas.